Perjuangan Panjang Reformasi Widdi Aswindi

Widdi Aswindi

Setelah dikungkung hampir 32 tahun dalam rezim Pemerintahan Presiden Soeharto, tahun 1998 merupakan tonggak kebangkitan demokrasi di Indonesia. Mahasiswa memiliki andil besar dalam menentukan arah bangsa ini melalui gagasan reformasi yang diusung. Banyak pro dan kontrak terkait gagasan dan awal gerakan reformasi itu sendiri. Namun yang pasti, gerakan reformasi di Indonesia tidak lepas dari pertemuan tokoh-tokoh bangsa yang berkumpul di Ciganjur.

Empat tokoh oposisi yang dikenal bersih saat itu diyakini  membawa arah reformasi. Pertemuan ini, dikenal dengan sebutan Deklarasi Ciganjur, yang dilangsungkan pada 10 November 1998. Masing-masing tokoh itu, memiliki jumlah massa pendukung, dan dianggap mewakili berbagai kepentingan yang ada.

Keempat tokoh tersebut, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu adalah tokoh oposisi yang memiliki basis pendukung dari kalangan NU, Amien Rais yang mewakili Muhammadiyah, dan dikenal kritis terhadap rezim Orde Baru, Sri Sultan Hamengku Buwono X, meski masuk dalam lingkaran dalam Soeharto di Partai Golkar, Sultan dikenal sebagai tokoh yang cukup bersih ketimbang tokoh Golkar yang lainnya. Kemudian, Megawati Soekarnoputri, dikenal sebagai tokoh oposisi dan mewakili kelompok nasionalis .

Pertemuan tersebut diprakarsai sejumlah organisasi mahasiswa, diantaranya mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ), Keluarga Mahasiswa ITB (KM-ITB), dan Mahasiswa Universitas Siliwangi (UNSIL).

Widdi Aswindi, mantan Ketua Satgas ITB, kelompok yang bersama-sama Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) menceritakan pertemuan tersebut. Berikut petikan wawancaranya.

Omong-omong, apa sih latar belakang Pertemuan Ciganjur dulu?

Pada saat itu, 1998 dulu, kesalahan Indonesia sudah sangat sistemik. Sudah bukan lagi kesalahan-kesalahan perorangan, tapi sudah jadi sebuah kesalahan sistem. Harus ada proses di mana kita semua sadar (akan) kesalahan-kesalahan itu dan kita harus bergerak dari titik nol. Jauh sebelum Soeharto turun, sebuah grand design akan apa yang harus dilakukan setelah Soeharto jatuh itu sudah dipikirkan oleh teman-teman di ITB. Kita ingin, kekuatan-kekuatan yang menjadi basis kuat di masyarakat harus ketemu, karena kalau kita berbicara dengan lembaga-lembaga resmi dalam sistem, tentu hanya akan menguntungkan rezim. Kalau kita bicara di DPR, kalau kita bicara di MPR, percuma. Makanya kita ingin yang ada di luar sistem.

Konsepsi dialog nasional yang semula, tadinya tidak seperti itu (Deklarasi Ciganjur, red), tadinya selain empat orang itu, masih ada Uskup Belo (pemimpin keagamaan di Timor Timur, red), bahkan kita juga undang Wiranto (saat itu Menhankam/Panglima ABRI, red) dan Habibie (saat itu Presiden, red) di lingkaran pertama. Seharusnya ada lingkaran kedua yang meliputi pakar-pakar, kemudian masyarakat dan sifatnya terbuka. Tempatnya kita ingin di gedung besar, (jadi) semacam rapat rakyat. Intinya cuma satu, bagaimana keluar dari krisis dan sama-sama sadar bahwa attitude kita selama ini adalah attitude orang-orang brengsek, baik elit maupun masyarakat. Tapi, pada prakteknya kan tidak seideal itu. Kita punya banyak sekali keterbatasan, mahasiswa saja tidak semuanya satu pendapat. Makanya kita berusaha mensosialisasikan ide ini. Hampir semua mahasiswa sudah tahu. Bahkan luar Jawa pun kita kirim surat.

Jadi, sebenarnya apa yang dimaui mahasiswa?

Intinya, waktu itu kita krisis kepemimpinan nasional. Dan kita sama sekali tidak punya mekanisme yang cukup legitimate untuk menjamin kepemimpinan nasional itu terus berlangsung dengan baik. Apalagi dalam masa krisis dan panas seperti itu ‘kan ? Bahkan prosesnya pun harus seperti sebuah konsensus yang menempatkan sikap kenegarawanan itu di depan. Makanya yang kita launching waktu itu, kita butuh pemimpin yang sifatnya kenegarawanan, kita tidak butuh pemimpin pintar, hanya butuh pemimpin kenegarawanan yang menjaga amanah, cerdik mengakali bagaimana Indonesia bisa keluar dari krisis, orang yang benar, dan dia juga orang yang track recordnya tidak terlalu jelek-lah!

Lalu bagaimana mendekati tokoh-tokoh itu ?

Kita tidak ingin menyingkirkan rezim lama dengan cara kasar, misalnya dengan meludahi, makanya kita juga undang Habibie dan Wiranto. Tapi kita mau mereka menyetujui platform tuntutan yang sudah kita buat. Kenyataannya, mereka menolak menyetujui. Kasarnya, begitu. Waktu itu Wiranto bersikeras supaya ABRI (kini TNI) berada di balik pemerintahan yang sah. Padahal, pada saat itu kesahan pemerintahan juga diragukan.

Tapi kita ambil keputusan, kita jalan terus. Yang menjadi persoalan waktu itu adalah bagaimana memunculkan suatu blok baru dalam kepemimpinan nasional, yang harus kepemimpinan sipil. Tahu sendiri bahwa kultur Indonesia adalah kultur kepemimpinan elit. Bahkan pertentangan di tingkat horizontal pun diatur oleh elit. Saat itu, tidak ada satu pun elit yang sadar untuk berbicara dalam konteks nasional. Semuanya berbicara dengan semangat oportunis. Kebutuhan yang mendesak itu, ditambah dengan akan digelarnya Sidang Istimewa yang hanya akan berfungsi melegitimasi rezim dan membuat kita semua makin jauh dari proses demokratisasi, itulah yang harus segera dikejar.

Seberapa dekat kalian dengan tokoh-tokoh yang diundang itu?

Tidak ada. Tidak ada sama sekali! Semua yang dilakukan adalah sebuah proses besar. Dulu, rekan Satgas ITB kita, Charlie, yang berusaha mencegat di tangga pesawat Sultan (Hamengkubuwono X), kemudian bagaimana dia berusaha masuk dalam rapat Gubernur se-Indonesia, lalu … bagaimana dia ‘nongkrongin rumah Sultan jam 4 pagi. Terus, Megawati, bagaimana dia ‘dipotong’ pada saat sedang pidato di Bogor oleh Peyi dari FKSMJ. Terus bagaimana kita sempat berusaha menduduki rumah Megawati. Itu semua, prosesnya tidak seperti sekarang. Sebetulnya, saya bersyukur kalau mereka mau bertemu atas dasar keinginan masing-masing. Kalau dulu, kita harus paksa-paksa dan rumitnya minta ampun.

Mereka setuju dengan platform yang kalian ajukan?

Ya, mereka setuju. Bahkan pada akhirnya, lima poin yang kita ajukan, termasuk penghapusan dwifungsi ABRI dan adili Soeharto ditambah dengan masalah PAM Swakarsa dan satu lagi, apa ya ..lupa. Sampai hari ini saya melihat, pertemuan Ciganjur dulu itu strategis, karena terbukti ‘kan, kita tidak punya tokoh lain.

Pemilihan lokasi di Ciganjur sudah merupakan setting juga?

Tidak, semula adalah seperti yang saya katakan tadi. Kita ingin tempat yang besar. Kita pernah survey lho .. ke Istana Bogor, ke Istana Cipanas, bagaimana caranya menguasai gedung-gedung ini, terus juga Istana Batu Tulis-nya Soekarno, terus Gedung Merdeka, Bandung, … pokoknya tempat-tempat yang memiliki nilai ritual sejarah supaya kita mudah memberikan back ground ke publik.

Tapi, Gus Dur yang jadi tokoh undangan, kena stroke dan saat itu dia sudah tiga kali stroke. Sudah keluar-masuk (rumah sakit). Jadi, kita tidak punya pilihan lain, Gus Dur stroke dan kita hanya me-lobby Amien (Rais) supaya mau berbesar hati datang, dan juga Mega dan Sultan. Itu tidak dalam pengertian posisi Gus Dur lebih tinggi dari yang lainnya.

Iklan

Desember 4, 2013 at 4:22 am Tinggalkan komentar

Industri Otomotif Menari-nari Diatas Penderitaan Korban Macet

Industri Otomotif Menari-nari Diatas Penderitaan Korban Macet

BATASI KENDARAAN
undefined
dok/b8

Ada sesuatu yang tidak berimbang dalam penggelembungan opini soal masalah macet yang menjadi masalah di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Menurut pemerhati kemacetan di wilayah Jabodetabek, Adhi AR mengatakan seharusnya permasalahan macet jangan hanya ditumpahkan ke pemprov DKI saja, tapi tidak dikupas ke produsen kendaraan dan lembaga keuangan pembiayaan kendaraan.

Dari analisisnya, ada beberapa fakta yang terjadi, penjualan kendaraan hingga akhir tahun di 2010 diperkirakan 720.000 unit (Seluruh Indonesia) dan saat ini kinerja Adira Finance berhasil membukukan laba bersih 1,1 triliun jika dibandingkan periode sebelumnya 896 milliar.

Peningkatan kinerja pembiayaan diakibatkan untuk pembiayaan sepeda motor baru melonjak sebesar 86%  menjadi 18,6 triliun, dibandingkan periode tahun lalu hanya 10 triliun.

Hingga kuartal ke 3 tahun 2010 penjualan mobil sudah mencapai 555.761 unit. dimana PT Astra Int hingga kuartal 3 208.972 unit dimana tumbuh 11,9 persen.

Tak hanya itu, Kenaikan penjalan kendaraan bermerk BWW juga meningkat hingga 50 %. Dibandingkan tahun lalu, Mercedes Benz hingga 33,3%. Sedangkan di pasar SUV naik hingga 70,4% dibandingkan periode yang sama yaitu 20.252 unit.

“Saya kira kesimpulan industri otomotif saat ini dilihat dari jumlah nilai belanja semakin kaya, dan akhirnya makin macet pula diwilayah Jabodetabek,” ungkapnya Minggu (17/10/2010).

Dan disisi lain yang disalahkan dan menjadi bulan-bualan oleh publik ke pemerintah daerah, khususnya DKI,” Saya kira ini tidak adil hanya pemerintah daerah saja yang harus duduk di kursi pesakitan. Di satu sisi industri media juga secara leluasa menikmati belanja iklan yang luar biasa dari industri otomotif. Intinya somebody have to take a blame akan masalah macet ini dan yang paling gampang adalah pemerintah daerah,” papar Adhi.

Sementara itu, berdasarkan data Polda Metro Jaya, hingga Mei lalu, jumlah perjalanan di Jakarta mencapai 20,7 juta perjalanan per hari. Jumlah itu terbagi menjadi sebanyak 850 ribu perjalanan per hari dari Tangerang, sebanyak 600 ribu perjalanan per hari dari Depok dan sebanyak 550 ribu perjalanan per hari dari Bekasi.

Sisanya, sebanyak 18,7 juta per hari dari seluruh wilayah DKI Jakarta. Tingginya jumlah perjalanan itu diantaranya 44 persen perjalanan dilayani kendaraan pribadi dan 56 persen sisanya dilayani angkutan umum.

Adapun jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta pada tahun 2009 lalu mencapai 6,5 juta unit terdiri dari 98,6 persen kendaraan pribadi atau sebanyak 6,4 juta unit, dan angkutan umum sebanyak 1,4 persen atau 88,477 unit.

Tahun ini, jumlah kendaraan mencapai 11 juta unit terdiri dari, 3 juta unit kendaraan bermotor roda empat dan 8 juta unit kendaraan bermotor roda dua. Atau angka pertumbuhan mobil  per hari mencapai 240 unit dan sepeda motor sebanyak 890 unit per hari. sumber : http://www.berita8.com/read/2010/10/17/3/31039/Industri-Otomotif-Menari-nari-Diatas-Penderitaan-Korban-Macet

Oktober 19, 2010 at 8:47 am Tinggalkan komentar

Aktivis : Anggota Dewan DKI Mau Nyaleg Lagi, Pikir Ulang Untuk Kita Pilih !

“Masih banyak figur lain dari pada orang-orang itu yang layak dipilih, sebaiknya dipikir dua kali kalau mau kita pilih,” paparnya.

Continue Reading Januari 30, 2009 at 4:09 am Tinggalkan komentar

Foto Mesra, Mirip Charly “Grepe” Dada Luna Maya

Namun kini tak ada bedanya, beredar di milist foto mesra mirip Luna Maya dengan Charly vokalis Band ST 12 beredar, salah satu adegannya adalah Charly meraba dada Luna Maya.

Continue Reading Januari 10, 2009 at 11:12 am 2 komentar

Daftar 27 Produk Kosmetik Berbahaya !

Inilah 27 produk kosmetik berbahaya yang dikeluarkan oleh Badan POM RI tahun 2008, seperti dalam surat keteranganya Nomor KH.00.OI.432.6147

Continue Reading November 26, 2008 at 7:29 am Tinggalkan komentar

Curug Desa Tlaga, Gumelar Yang Asyik Dan Sejuk

Wisata air terjun memang mengasyikan, apalagi suasana alam di sekeliling sangat mendukung dengan udara yang bersih dan sejuk, Curug Tlaga namannya.

Continue Reading Oktober 22, 2008 at 5:10 am Tinggalkan komentar

Percikan Hati “Maaf Tak Ada Lagi Orang Miskin Berpijak Di Tanah Ini”

Berdasar catatan redaksi tahun 2008, selain kenaikan harga BBM yang sempat mengguncang ekonomi dan politik nasional, rakyat juga terus terpinggirkan dengan sikap represif pemerintah yang ditunjukkan dengan penggusuran-penggusuran. Seolah-olah pemerintah tidak memberikan kesempatan hidup bagi rakyat miskin

Continue Reading September 17, 2008 at 6:15 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kategori

RSS Widdi.co

Feeds

September 2017
S S R K J S M
« Des    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RSS Berita.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.